Pra-Sosialisasi PTSL Tahun 2020 Di Kelurahan Kecandran

Pra-Sosialisasi PTSL Tahun 2020 Di Kelurahan Kecandran

Memenuhi surat dari Kepala Kantor Pertanahan Kota Salatiga Nomor : UP.04.07/734-33.73/IX/2019 tanggal 16 September 2019 perihal undangan pra-sosialisasi kegiatan PTSL tahun 2020. Yang pelaksanaanya dihadiri oleh Ketua RT, Ketua RW dan Para Pamong Kelurahan/Tokoh Masyarakat setempat pada hari Kamis tanggal 19 September 2019 jam 08.00 WIB sampai selesai yang bertempat di Balai Kelurahan Kecandran Kecamatan Sidomukti Kota Salatiga. Diharapkan nantinya penyampaian program kegiatan Pendaftaran Tanah Sistematik Lengkap (PTSL) dan Reformasi Agraria yang akan menunjang dalam mensukseskan Salatiga Menuju Kota Lengkap Tahun 2020. SK/N.B.

Menelusuri Masjid Peninggalan Laskar Diponegoro di Salatiga

Masjid Hasan Ma’arif di Kecandran, Kota Salatiga

Kendati bentuk fisik Masjid Hasan Ma’arif di , Kecandran, Sidomukti, Kota Salatiga relatif  sederhana. Namun, tempat ibadah tersebut  disebut- sebut merupakan warisan mantan prajurit (laskar) Pangeran Diponegoro. Seperti apa kondisinya sekarang ? Berikut penelusurannya selama dua hari berturut- turut.

Seperti galibnya bangunan tempo dulu, Masjid Hasan Ma’arif masih terlihat kokoh, mungkin karena proses pembangunannya tidak tersentuh tangan kotor koruptor. Jadi, memasuki usia 1 abad (dua tahun mendatang), masjid ini tak perlu dilakukan perbaikan.

Agak susah menelusuri kapan Masjid Hasan Ma’arif ini didirikan, sebab, literatur resmi nyaris tidak ada. Keterangan yang berdasarkan cerita turun temurun yang menyebutkan bahwa masjid tersebut dibangun oleh Kyai Condro, seorang anggota laskar Pangeran Diponegoro.Bila prajurit pejuang lagendaris itu yang mendirikan, maka usia tempat ibadah umat Islam itu umurnya mencapai ratusan tahun. Logikanya, perang Pangeran Diponegoro melawan militer Belanda, terjadi mulai tahun 1825-1830.

Semisal dibangun paska penangkapan Pangeran Diponegoro yang terjadi di Magelang tanggal 28 Maret 1830, maka, hal itu juga kecil kemungkinannya. Sebab, masjid tertua di kota Salatiga , yakni Masjid Damarjati yang yang didirikan oleh Kyai Damarjati, juga seorang veteran perang Diponegoro saja, berdasarkan catatan didirikan tahun 1826. Di mana, almarhum Kyai Damarjati yang menjadi salah satu senopati sang Pangeran, berupaya melebarkan sayap peperangan hingga ke Salatiga. Sementara, konon Masjid Hasan Ma’arif dibangun usai perang Diponegoro.

Situasi tahun 1830, sangatlah berbeda dengan masa sekarang. Kyai Condro yang awalnya ikut mengawal Pangeran Diponegoro ke Magelang bersama 79 prajurit lainnya, saling berpencar. Komunikasi langsung terputus, maklum yang namanya handphone, smarphone mau pun handy talkybelum ada. Sehingga, masing- masing berupaya menyelamatkan diri tanpa melalui koordinasi seperti pasukan jaman sekarang.

Kyai Condro yang waktu itu belum memiliki ilmu agama (Islam) mencukupi, belakangan getol menyebarkan syiar. Di luar urusan keagamaan, ia juga menularkan ilmu bela diri, maklum, mantan veteran perang. Jadi ya ajar kalau dirinya menguasai berbagai cabang bela diri. Hal inilah yang membuat perkampungan sepi penduduk jadi semakin ramai hingga menjadi sebuah dusun.

Keberadaan kampung yang berubah menjadi dusun, belakangan membuat masyarakatnya makin religius sehingga membutuhkan satu tempat untuk beribadah secara berjamaah. Sayang, Kyai Condro ilmunya belum dianggap mumpuni, sehingga ia mengundang sahabatnya asal Magelang bernama Hasan Muarif yang memang piawai dalam mengupas agama Islam.

Duet dua sahabat itu, akhirnya menyepakati untuk mendirikan mushola kecil yang bisa digunakan sholat berjamaah. Hingga pemeluk agama Islam semakin banyak, maka dusun tanpa nama itu mulai dikenal sebagai kawasan Muslim. Dalam perkembangannya, sesudah Kyai Condro mau pun Hasan Muarif wafat, tahun 1919 , Mushola dibongkar dan diperbesar jadi masjid

Sementara dusun yang semakin besar, atas kesepakatan masyarakat setempat dinamakan Desa Kecandran, diambil dari nama Kyai Condro. Dulunya, wilayah ini masuk Kabupaten Semarang. Setelah Salatiga mengalami pemekaran, akhirnya Desa Kecandran diubah menjadi Kelurahan dan termasuk Kecamatan Sidomukti hingga sekarang.

Jam bencet di halaman Masjid Hasan Ma'arif (foto: dok Tasom)
Jam bencet di halaman Masjid Hasan Ma’arif

Bukan Dibangun Kyai Condro

Lantas, seperti apa kondisi Masjid Hasan Ma’arif sekarang ? Ternyata masjid ini masih kokoh seperti dulu. Di mana, di halaman depan juga terdapat jam bencet, alat penentu waktu sholat peninggalan peradaban Islam jaman serba susah. Jam tersebut masih dalam kondisi bagus dan terawat, bahkan dibanding yang ada di Pulutan relatif lebih baik yang ada di sini.

Kendati secara fisik, arsitekturnya mirip Masjid Geseng di Kabupaten Purworejo yang merupakan peninggalan Sunan Geseng, namun, Masjid Hasan Ma’arif sepertinya agak diragukan keberadaannya bila dikaitkan dengan veteran perang Diponegoro. Agar tidak terjadi “kecelakaan” sejarah, akhirnya data tersebut di atas harus diuji di lapangan. Rochani, takmir Masjid Hasan Ma’arif yang ditemui, Kamis (1/6) sore, ternyata tak mampu memberikan penjelasan. “ Langsung ke Haji Muchlasin saja, beliau sekretaris takmir,” katanya.

Untungnya, setelah menunggu sekitar 30 menit di rumahnya, H. Muchlasin bisa ditemui. Ia menjelaskan, kalau Kyai Condro memang benar adanya merupakan sesepuh Kelurahan Kecandran. Beliau juga mantan prajurit Pangeran Diponegoro yang membuka lahan di sini. “ Tapi, kalau beliau yang mendirikan Masjid Hasan Ma’arif, setahu saya bukan,” ungkapnya.

Menurutnya, berdasarkan keterangan saksi- saksi yang sekarang sudah uzur, di jaman pemerintahan kolonial Belanda, tepatnya tahun 1925, seorang warga setempat bernama H. Abdul Khanan  membeli lahan milik almarhum Sumo. “ Setelah itu didirikan mushola kecil yang dikelola oleh H. Abdurahman, sampai beliau pulang ke daerah asalnya,” kata H. Muchlasin.

Sepeninggal H. Abdurahman, datang H. Hasan Ma’arif yang selain mengelola mushola juga ikut berjuang melawan penjajahan Belanda. Hingga tahun 1935, menjelang kemerdekaan Republik Indonesia, mushola dipugar menjadi sebuah masjid. “ Tahun 1948, saat class ke II, Masjid Hasan Ma’arif sempat dipugar lagi. Bahkan tahun 1994 juga direnovasi,” ungkapnya.

Karena jasa H. Hasan Ma’arif cukup besar dalam mengembangkan agama Islam di Kecandran dan juga setia merawat rumah Allahtersebut, maka namanya diabadikan sebagai nama masjid.Lho ? Lantas, apa hubungannya dengan Kyai Condro serta karibnya yang bernama Hasan Muarif ? “ Ya logikanya tidak ada, kalau Kyai Condro adalah laskar Pangeran Diponegoro yang merintis Kelurahan Kecandran benar, tapi kalau terkait Masjid Hasan Ma’arif saya sendiri juga meragukan,” jelas H. Muchlisin mengakhiri perbincangan.

Begitulah hasil penelusuran cikal bakal Masjid Hasan Ma’arif yang santer disebut- sebut sebagai peninggalan Kyai Condro. Agar “kecelakaan” sejarah tak terus menerus berulang, maka dengan keterangan H. Muchlasin ini, semoga semua pihak mampu menerima sekaligus mencernanya. Sebab, nama Hasan Ma’arif dengan Hasan Muarif memang ada kemiripan, hanya beda satu huruf. (Artikel)

https://www.kompasiana.com/bamset2014/592fe82d4d7a61b23be3e401/menelusuri-masjid-peninggalan-laskar-diponegoro-di-salatiga#

Pertemuan Rutin PKK Kelurahan Kecandran

Pertemuan Rutin PKK Kelurahan Kecandran di Gedung Sekretariat Bersama Kelurahan Kecandran

Kecandran – Pada hari Selasa tanggal 16 Juli 2019 jam 09.00 WIB sampai selesai yang bertempat di gedung sekretariat bersama Kelurahan Kecandran diadakan acara Pertemuan rutin PKK Kelurahan Kecandran, dalam pertemuan tersebut yang disampaikan antara lain informasi hasil Pleno TP PKK Kota Salatiga, Penyampaian hasil lomba kebersihan tingkat Kelurahan, Koordinasi persiapan lomba PKK KB KES dan lomba LBS ( Lingkungan Bersih dan Sehat ) tingkat Provinsi Jawa Tengah dan penyuluhan tentang Pengolahan Sampah serta tentang PHBS ( Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) yang keliru sehingga merugikan/berdampak negative bagi kesehatan. Hidup Jaya PKK. (K.Kes/SSA. & Eb/S.F.)

Desa kecandran salatiga

Kecandran adalah sebuah kelurahan yang berada di wilayah Kecamatan Sidomukti Salatiga. Nama kecandran konon berasal dari nama seseorang pejuang yaitu Chandra. Chandra adalah seorang prajurit semasa perjuangan Pengeran Diponegoro yang saat itu melarikan diri ke kawasan Salatiga.
Cerita tentang terjadinya penamaan kecandran tidak ada yang tertuliskan secara pasti. Ceritanya hanya dari mulut ke mulut.
Sebab, tidak ada peninggalan sejarah atau prasasti yang menandakan terjadinya kelurahan Kecandran ini. Dari buku Salatiga dalam Legenda yang diterbitkan Pemkot Salatiga, dituliskan bahwa Desa Kecandran dikaitkan dengan perjuangan pahlawan nasional Pangeran Diponegoro. Saat perang Pangeran Diponegoro ditipu Belanda di Magelang.
Pada saat datang dalam perjanjian dengan Belanda itu, Pengeran Diponegoro diikuti oleh tak kurang 80 orang prajurit. Saat memasuki ruang pertemuan, ternyata hanya Diponegoro sendiri yang diperbolehkan masuk. Sedangkan para pengikutnya menunggu di luar.
Dengan liciknya, Belanda menangkap Pangeran Diponegoro dan dalam keadaan tertentu para prajurit buyar ke berbagai wilayah di sekitar Magelang dan sekitarnya. Salah satu prajurit tersebut bernama Chandra atau bisa juga disebut Condro.
Chandra dalam perjalanannya sampailah di sebuah wilayah yang masih belum punya nama dan sebuah dusun kecil. Pada waktu itu sekitar tahun 1830-an atau akhir perang Diponegoro. Di dusun inilah ternyata Chandra kemudian bermukim.
Dia menetap di dusun itu. Sebagai prajurit, dia memiliki ilmu kanuragan yang bisa diandalkan. Dia beragama Islam, namun tidak mumpuni dalam urusan agama karena bukanlah seorang ulama. Kepahlawanan para prajurit di bawah kepemimpinan Pengeran Diponegoro bukan hanya menyuburkan syiar Islam. Mereka juga membuat sejumlah daerah baru, seperti salah satu Desa di wilayah Salatiga.
Untuk memenuhi keinginan warga yang ingin belajar tentang agama Islam, maka Chandra mengajak temannya dari Magelang yang bernama Hasan Muarif yang seorang ulama dan menguasai Islam. Akhirnya kedua orang itu bersamasama membangun desa agar lebih maju.
Lama kelamaan penduduk bertambah banyak. Chandra dan Hasan Muarif dibantu warga bisa membuat mushala sederhana untuk tempat ibadah. Baru tahun 1919, didirikanlan sebuah masjid yang cukup besar di dusun tersebut.
Karena Hasan Muarif merupakan tokoh ulama yang disegani di dusun tersebut, maka masjid itu dinamai Masjid Hasan Muarif. Menurut cerita masyarakat, Kiai Hasan Muarif memiliki hati yang bersih dan suci. Suatu ketika ada sebuah kejadian mengagumkan.
Saat Nyai Hasan Muarif membuat lubang di tanah untuk menanam uwi (tanaman umbi-umbian) lubang yang belum sempat ditanami itu, pagi harinya terdapat seekor gogor (anak macan) yang terperangkap dalam lubang itu. Di desa itu masih berupa hutan lebat sehingga masih banyak binatang buas. Karena kasihan, maka dilepasnya gogor itu agar bisa bertemu dengan induknya.
Malam harinya, di depan rumah Kiai Hasan Muarif tiba-tiba ada rusa yang kemungkinan ditangkap harimau yang dipersembahkan untuk Kiai Hasan Maarif sebagai imbalan karena telah membantu melepaskan gogor itu. Rusa itu tidak mati, hanya patah di bagian kaki sehingga tidak bisa berjalan. Rusa adalah binatang yang banyak diburu warga untuk dimakan dagingnya.
Dengan rasa terharu Kiai Hasan Muarif menyembelih rusa itu dan dimasak dimakan dengan warga lain. Meskipun Hasan Muarif begitu terkenal, dan disegani warga, namun sang mantan prajurit Chandra bukan berarti lalu dilupakan.
Chandra tetap juga disegani warga dusun setempat karena berhasil membangun desa menjadi lebih maju. Akhirnya dusun kecil yang kemudian menjadi ramai dan maju itu kemudian dinamai Desa Kecandran.

Sumber : sigit prasetyo

Gitatani (Digitasi Database Tanah Pertanian) Kelurahan Kecandran

Sosialisasi aplikasi “GITATANI (Digitasi Database Tanah Pertanian)” di Gedung sekretariat bersama Kelurahan Kecandran

Kecandran – Pada hari Jum’at tanggal 14 Juni 2019 diadakan sosialisasi aplikasi Gitatani di Gedung sekretariat bersama Kelurahan Kecandran. Gitatani adalah aplikasi berbasis web, sehingga dapat dibuka menggunakan browser dengan alamat http://gitatani.salatiga.go.id yang digunakan untuk melakukan pendataan dalam rangka pengamanan Barang Milik Daerah berupa tanah untuk usaha pertanian di Kelurahan Kecandran, Kecamatan Sidomukti, Kota Salatiga.

Tujuan pengembangan Gitatani adalah untuk memudahkan penyajian informasi tentang keberadaan dan kondisi Barang Milik Daerah berupa tanah untuk usaha pertanian di Kelurahan Kecandran kepada Pemerintah Kota Salatiga dan masyarakat dalam rangka pengelolaan dan pengamanan Barang Milik Daerah berupa tanah guna meningkatkan pelayanan publik dan peningkatan akuntabilitas aparat.

Manfaat pengembangan Gitatani adalah untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik dengan adanya informasi publik mengenai database Barang Milik Daerah berupa tanah untuk usaha pertanian; mempermudah pengelolaan, pemanfaatan, dan pengamanan Barang Milik Daerah berupa tanah untuk usaha pertanian; memudahkan pelaksanaan program pembinaan kewilayahan terkait dengan tata kelola Barang Milik Daerah berupa tanah untuk usaha pertanian; dan memudahkan memperoleh database Barang Milik Daerah berupa tanah untuk usaha pertanian sebagai potensi ketersediaan lahan pertanian. (K.P/SGT)

PENGUMUMAN APEL BERSAMA 10 JUNI 2019

MOHON MAAF PELAYANAN TERTUNDA

DIKARENAKAN SELURUH PEGAWAI KELURAHAN KECANDRAN MENGIKUTI APEL BERSAMA, SILATURROHIM DAN HALAL BIHALAL HARI RAYA IDUL FITRI 1440 H/2019 M

PADA HARI SENIN TANGGAL 10 JUNI 2019 DI HALAMAN RUMAH DINAS WALIKOTA SALATIGA

PELAYANAN DIBUKA PUKUL 09.00 WIB

TERIMA KASIH

    TTd

                  LURAH KECANDRAN

Dasar  : Surat Sekretaris Daerah Kota Salatiga Nomor : 005/628/101.2 Tanggal 27 Mei 2019    Perihal Apel Bersama                                                                                              

PENGUMUMAN LIBUR DAN CUTI BERSAMA IDUL FITRI 1440 H / 2019 M

MOHON MAAF PELAYANAN TERTUNDA DIKARENAKAN LIBUR DAN CUTI BERSAMA HARI RAYA IDUL FITRI 1440 H / 2019 M PADA TANGGAL 1 S.D. 9 JUNI 2019

DAN PELAYANAN DIBUKA KEMBALI TANGGAL 10 JUNI 2019

KAMI  SEGENAP PEGAWAI KELURAHAN KECANDRAN MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1440 H / 2019 M

MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN

                                                                     TTd.

                                                                                 LURAH KECANDRAN

Dasar  : KEPPRES RI    Nomor 13 TAHUN 2019       Tanggal 27 Mei 2019      Perihal Cuti Bersama Pegawai Negeri Sipil Tahun 2019                                                   

 

 

Bazar sembako bersubsidi Kelurahan Kecandran

Lokasi bazar di halaman Masjid Hasan Ma’arif
Kelurahan Kecandran

Kecandran – Dalam rangka menyambut Lebaran (Hari Raya Idul Fitri) 1440 H/2019 M, sebagai agenda rutin diselenggarakan bazar/pasar murah. Pemerintah Kota Salatiga melalui Dinas Koperasi, Usaha Kecil Dan Menengah dengan dasar surat nomor : 005/174/416 tanggal 2 April 2019 Perihal membahas pelaksanaan bazar yang diselenggarakan di masing-masing Kelurahan. Menindaklanjuti surat tersebut pada hari rabu tanggal 22 Mei 2019 diadakan kegiatan penyelenggarakan promosi produk UMKM paket Sembako bersubsidi mulai pukul 08.00 WIB s.d. 12.00 WIB bertempat di halaman Masjid Hasan Ma’arif Kelurahan Kecandran, adapun sembako bersubsidi yang disediakan dalam kegiatan bazar antara lain Gula Pasir sejumlah 450 kg, minyak Goreng sejumlah 450 Liter, Telur sejumlah 450 kg, Tepung Terigu sejumlah 450 kg dan Beras sejumlah 887,5 kg. Dengan diselenggarakannya Bazar ini diharapkan dapat membantu warga khususnya di Kelurahan Kecandran untuk mendapatkan Bahan pokok bersubsidi, berkualitas dan terjangkau serta sebagai sarana untuk mempromosikan produk-produk UMKM di Kota Salatiga. (Eb/S.F.)